Rabu, 09 April 2008

Sorga dan Neraka di Pura Dalem Puri

Sorga dan Neraka di Pura Dalem Puri

Indriyanyeva tat sarvam yat
Svarganarakavubhau nirgrhitanissrstani
svargaya narakaya ca.
(Sarasamuscaya.71)

Maksudnya:
Nafsu indrialah sebagai penyebab orang masuk sorga atau neraka. Jika nafsu itu dikuasai pengendaliannya maka sorgalah sebagai pahalanya. Apabila nafsu tersebut tidak mampu dikuasai maka nerakalah sebagai pahalanya.

AJARAN sastra Hindu sudah banyak sekali menguraikan tentang keindahan dan suka cita yang akan didapatkan bagi mereka yang dapat mencapai sorga dan derita yang akan menimpa mereka yang ada di neraka. Menanamkan keyakinan pada umat tentang adanya sorga dan neraka bukanlah semudah teorinya. Apalagi dewasa ini umat sudah semakin kuat daya logikanya. Karena itu keyakinan tentang adanya sorga dan neraka itu perlu ditempuh dengan berbagai cara.

Uraian tentang adanya sorga dan neraka itu perlu ditanamkan pada umat dengan segala cara asalkan tetap dalam bingkai batasan konsepsi spiritual untuk membangkitkan kecerdasan intelektual dengan pendekatan kepekaan kelembutan emosional. Ajaran tentang adanya sorga dan neraka yang ada dalam tattwa, susila dan mitologi Hindu itu divisualisasikan juga dalam
sistem pemujaan Hindu di Bali.

Nampaknya cara pemikiran itulah yang menjadi latar belakang didirikannya Pura Dalem Puri sebagai salah satu kompleks Pura Besakih. Karena Pura Besakih secara keseluruhan adalah simbol Bhuwana Agung. Bhuwana Agung itu terdiri atas alam bawah yang disebut Soring Ambal-ambal dan lambang alam atas yaitu Luhuring Ambal-ambal. Dalam Sarasamuscaya alam atas itu disebut juga Para Loka. Para Loka itu terdiri atas sorga dan neraka. Para Loka inilah yang divisualisasikan dalam wujud simbol sakral sebagai Pura Dalem Puri.

Letak Pura Dalem Puri ini kurang lebih satu kilometer di barat Pura Penataran Agung Besakih. Di pura ini divisualisasikan keberadaan sorga dan neraka sesuai dengan konsep ajaran Hindu Siwa Sidhanta. Di pura ini Tuhan dipuja sebagai Batari Uma Dewi yang juga disebut Dewi Durgha. Pura ini sebagai simbol pengadilan Tuhan kepada Pitara atau roh manusia yang telah meninggal menuju alam suksma atau Para Loka.

Di areal Pura Dalem Puri di samping ada pelinggih atau bangunan suci tempat memuja Tuhan sebagai Batari Uma Dewi ada juga areal yang letaknya di luar pembatas pura yang disebut Tegal Penangsaran simbol Neraka Loka. Pura Dalemnya yang ada di jeroan atau dalam tembok pembatas pura simbol Sorga. Sedangkan di luarnya yang disebut Tegal Penangsaran simbol
Neraka. Roh orang yang dalam kehidupannya di dunia ini lebih banyak berbuat sharma daripada adharma akan diterima di Pura Dalem Puri. Sedangkan roh orang yang selama hidupnya di dunia lebih banyak adharmanya akan masuk neraka yang disimbolkan atau divisualisasikan dengan Tegal Penangsaran.

Pura Dalem Puri ini tergolong pura stana saktinya atau kekuatan magis religiusnya dari Dewa Siwa yang disebut dengan Uma Dewi atau Dewi Durgha. Karena itu pintu masuk Pura Dalem Puri ini berhadap-hadapan dengan pintu masuk Pura Penataran Agung Besakih yang berbentuk Candi Bentar.

Umat Hindu Siwa Sidhanta di Bali percaya bahwa roh orang yang telah meninggal itu semuanya disimbolkan menuju alam gaib yang disebut Para Loka. Roh yang baik itu disimbolkan dan diterima di Pura Dalem Puri. Inilah simbol Sorga. Sedangkan yang belum diterima di sorga diterima di neraka yang disimbolkan oleh areal Tegal Penangsaran. Roh atau Atman
yang berada di Tegal Penangsaran dapat berpindah ke areal di dalam Pura Dalem Puri apabila keturunannya melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk menebus dosa-dosa leluhur, keturunan dan diri sendiri haruslah dengan perbuatan dharma yang berguna bagi semua pihak.

Tentunya perbuatan baik itu bukan hanya upacara saja. Ia dapat dilakukan dengan banyak cara. Dengan adanya Pura Dalem Puri dengan Tegal Penangsarannya itu seharusnya umat Hindu dapat termotivasi untuk lebih banyak berbuat baik. Perbuatan baik itu tidak untuk kebaikan dirinya semata, tetapi juga untuk kebaikan leluhur dan keturunan kelak.

Pura Dalem Puri ini adalah hulunya Pura Dalem Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali. Kalau melangsungkan upacara Nuntun Dewa Pitara ke pura pemujaan keluarga yang disebut Merajan itu sesungguhnya tidak mutlak harus ke Pura Dalem Puri. Hal itu dapat dilakukan di Pura Dalem di Kahyangan Tiga di desa pakraman. Tetapi tidak salah juga kalau memang ada yang Nuntun Dewa Pitara-nya ke Pura Dalem Puri di Besakih.

Upacara Nuntun Dewa Pitara itu adalah upacara yang berfungsi untuk menstanakan roh leluhur yang telah selesai upacara ngaben dan memukur. Menurut Lontar Gayatri Roh, orang yang meninggal disebut Presta. Setelah upacara penyucian tahap pertama yang disebut ngaben itu maka roh tersebut meningkat dan disebut Pitara. Selanjutnya dilakukan upacara penyucian
tahap kedua yang disebut Atma Wedana seperti upacara Nyekah atau Memukur.

Setelah upacara penyucian tahap kedua itu roh tadi disebut Dewa Pitara. Artinya roh yang telah lebih suci dan mencapai alam dewa yang disimbolkan di Pura Dalem Puri. Karena itu upacara menstanakan roh suci leluhur itu dilakukan dari Pura Dalem Puri atau Pura Dalem Kahyangan Tiga di desa pakraman terus di-tuntun dan di stanakan di Merajan Kemulan.
Menstanakan Dewa Pitara di Merajan Kemulan amat jelas diuraikan dalam Lontar Purwa Bumi Kamulan.

Dewa Pitara yang distanakan di Merajan Kamulan itu dapat disembah sebagai Batara Hyang Guru oleh pratisentana-nya. Kata ”Batara” dalam bahasa Sansekerta artinya pelindung. Kata ”Batara” ini telah mewarga ke dalam bahasa Jawa Kuno dan bahasa Bali. Sedangkan kata ”Hyang” dalam bahasa Jawa Kuna artinya suci. Jadinya roh yang telah suci itulah yang
dapat disembah sebagai Batara Hyang Guru.

Di Pura Dalem Puri, Tuhan dipuja sebagai Batari Uma Dewi atau Durga Dewi atau juga disebut Batari Giri Putri yang distanakan di Pelinggih Gedong beratap ijuk. Di luar tembok pura ada Pelinggih Prajapati tempat memuja Sang Hyang Prajapati penguasa roh manusia yang menuju alam niskala atau atau Para Loka. Di sinilah pengadilan pertama roh yang telah lepas dari badan wadahnya. Bisa masuk sorga dan juga bisa masuk neraka tergantung kamarnya dalam kehidupannya di bumi ini. *

Saatnya kembali pada Dharma

Saatnya kembali pada Dharma

OM Swastyastu, Namaskar
Bencana dan Malapetaka menimpa Bumi Nusantara silih berganti, kematian dan penderitaan di mana - mana. Itu merupakan tanda agar kita semua kembali kepada Dharma. Terlalu jauh kita semua meninggalkan Dharma, sehingga kita harus tertimpa segala derita.

Banyak keyakinan lain menawarkan solusi untuk segala problem yang timbul tersebut. tapi yakinlah bahwa Dharma adalah satu - satunya solusi kita untuk melewati Kaliyuga dengan selamat.Keyakinan lain hanya mengajarkan kita untuk percaya kepada Tuhan. Namun di Kaliyuga ini percaya kepada Tuhan saja tidak cukup. Janji - janji keselamatan menjadi omong kosong di Kaliyuga ini.

Memahami dan Menjalankan Dharma kita sebagai manusia adalah satu - satunya jalan keselamatan. Bukan sekedar berwacana, kita harus belajar dan bertindak. Dharma manusia adalah secepat - cepatnya memahami diri sejati (Atman) dan berusaha mengenal Brahman dan memahami bahwa manusia dan Semesta Alam satu adanya. Atman dan Brahman adalah satu (Atman Brahman Ekyam). Dengan kesadaran tersebut kita harus bertindak menjaga alam dan mencintai sesama. hanya dengan demikian kelangsungan hidup manusia di planet Bumi dapat berkelanjutan.

Ajaran Dharma mengajarkan kita untuk merasa bagian dari alam semesta. Ajaran dharma mengajarkan kehormatan manusia dan bagaimana menghormati Alam dan seluruh isinya. bukan alih - alih menganggap diri ciptaan tertinggi dan mahluk termulia di hadapan Tuhannya, sehingga dengan arogan bertindak semena - mena terhadap alam.

Kerusakan alam yang berujung bencana berawal dari kesalahan konsep diatas. manusia menjadi arogan dan lupa bahwa manusia juga adalah bagian dari ekosistem yang bernama Bumi. manusia dengan didukung keyakinan dan tafsir yang keliru serta tehnologi yang tidak ramah lingkungan, dengan semena -mena merusak alam. Tidak ada satupun keyakinan diluar Dharma yang mengajarkan kepedulian terhadap semesta alam. Dharma mengajarkan kita untuk menghormati alam layaknya anggota keluarga. Pertiwi adalah ibu kita, Gunung adalah saudara tua kita, binatang dan tumbuhan adalah saudara - saudara kita. semuanya membentuk ekosistem yang saling tergantung satu dengan yang lain. tidak ada yang derajat lebih tinggi atau lebih rendah. Kerusakan komponen yang satu akan berakibat kerusakan bagi yang lain. Hal tersebut yang tidak pernah disadari oleh manusia dan pengetahuan modernnya yang hanya berpikir parsial.

Ajaran Dharma memancarkan cinta kasih Universal. Dharma ada bagi seisi alam,bukan untuk sebagian umat atau kaum semata.Brahman adil adanya, tidak pernah menunjuk salah satu bangsa sebagai bangsa pilihan. Tuhan yang hanya mengasihi sebagian manusia, tidak pantas disebut Tuhan dan tidak layak disembah. Apatah artinya Maha Adil bila terhadap bangsa saja pilih kasih. Dharma tidak pernah mengajarkan membunuh orang diluar Dharma. Dharma tidak pernah mengkafirkan orang. Dharma tidak memerlukan promosi, iklan dan intimidasi agar tetap diakui. Keyakinan sejati tidak perlu pembelaan dari umatnya. Manusia yang waras pikirannya, pasti bisa membedakan kesejatian Dharma dan hanya orang gila yang mau menganut kepalsuan.

Hukum Karma sebagai bagian dari Dharma, berlaku bagi siapa dan apa saja. Tidak ada perkecualian dalam Karma. Siapa yang menabur akan menuai (Sapa nandur bakal ngunduh, ngunduh wohing pakarti). Percaya atau tidak percaya tidak menjadi soal, Hukum Karma akan berlaku bagi yang percaya maupun tidak.Hukum Karma adalah adil seadil - adilnya, tidak mengenal kolusi,nepotisme dan kebal terhadap suap. Tidak perduli apa keyakinannya, tidak perduli siapa gurunya, nabinya, juru selamatnya dan apa status sosialnya, keturunan serta warna kulitnya. Hukum Karma tidak terpengaruh SARA, tidak ada diskriminasi dalam Hukum Karma.

Setelah membaca fakta - fakta diatas, semoga saudara - saudara sekalian sadar dan semakin yakin bahwa kita terhubung pada ajaran tersempurna di kolong jagad. Bukan sekedar klaim sebagai yang terakhir. Bukan juga yang hadir untuk menggenapi ajaran terdahulu. Dharma ada untuk kebaikan seisi alam. Sekarang tergantung kita apakah kita sanggup menerapkan ajaran Dharma dalam kehidupan ini. Sudah waktunya kita untuk kembali kepada Dharma. Hanya Dharma yang akan mengangtarkan kita kepada kesatuan Atman dan Brahman (Manunggaling Kawula lan Gusti).

Demikian sekilas pemahaman saya terhadap ajaran Dharma, semoga bermanfaat. Dan mohon maaf bila ada silap kata. Semoga kebenaran datang dari segala arah.

OM Shivaya Nama Bhudaya

PURA ULUWATU

WISATA
PURA ULUWATU




Sejarah
Bongkahan batu karang di lokasi pura tersebut menurut legenda merupakan metamorphose dari Dewi Danu dan Dewi Air. Lingkungan Pura Luhur Uluwatu diperkirakan didirikan sekitar abad ke 11, sejaman dengan Empu Kuturan mendirikan Pelinggih lingkungan Pura Besakih. Tempat ini dipilih oleh Pendeta Danghyang Nirarta untuk mencapai moksa (menyatu dengan Sang Hyang Pencipta). Semak-semak di sekitar lingkungan Pura dijaga oleh kera-kera jinak yang dilindungi oleh masyarakat.

Lokasi
Uluwatu terletak di daerah perbukitan batu karang di sebelah selatan Pulau Bali. Termasuk wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabuaten Badung. Untuk mencapai Uluwatu dari kota Denpasar berjarak kurang lebih 30 km ke arah Selatan melalui kawasan pariwisata Kuta, Badara Ngurah Rai Tuban dan Desa Jimbaran. Tempat ini sangat baik untuk berolahraga papan selancar sepanjang tahun. Lingkungan di sekitar ULuwatu sangat kering sehingga air sangat sulit didapatkan.

Fasilitas
Di dekat lingkungan Pura Luhur Uluwatu tersedia tempat parkir yang cukup luas. Kios-kios souvenir serta warung-warung minuman dan makanan kecil juga tersedia di sekitar tempat itu. Toilet untuk umum terdapat di pojok tenggara tempat parkir.

SANGEH

WISATA
SANGEH




Sejarah
Pada abad ke 17 dijaman keemasan kerajaan Mengwi, I Gusti Agung Ketut Karangasem putra dari I Gusti Agung Made Agung (Raja Mengwi), mendirikan pura di tengah pohon pala yang selanjutnya diberi nama Pura Bukit Sari. Hutan pohon pala yang merupakan areal suci Pura yang dikeramatkan oleh masyarakat Desa Adat Sangeh dan sekitarnya, sehingga berfungsi sakral disamping berkembang menjadi obyek kunjungan wisatawan mancanegara. Di tengah hutan lebat yang hijau terdapat lebih kurang 500 ekor kera jinak yang sering mempesona wisatawan manca negara.

Lokasi
Sangeh terletak 20 km di sebelah utara Denpasar, di seberang jalan menuju Pelaga, kira-kira 30 menit dari Denpasar dengan transportasi umum.

Fasilitas
Di sekitar obyek wisata terdapat tempat parkir, kios souvenir, kios makanan, jalan setapak dan lain-lain. Transportasi ke obyek sangat lancar karena kendaraan umum jurusan Denpasar-Blahkiuh sudah merupakan jaringan transportasi umum.


PURA TAMAN AYUN

WISATA
PURA TAMAN AYUN




Sejarah
Sebuah lingkungan pura kerajaan yag dibangun tahun 1634. Lingkungan Pura tersebut dikelilingi oleh kolam berisi teratai, kira-kira 300 meter sebelah istana kerajaan Mengwi. Lingkungan pura dengan tiga halaman yang hijau oleh tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumputan yang terpelihara, dihiasi oleh barisan meru, paibon dan Padmasana Singgasana Sang Hyang Tri Murti. Dan di seberang lingkungan pura juga terdapat Museum Manusa Yadnya , yaitu Museum upacara kemanusiaan sejak manusia dalam kandungan sampai dengan pembongkaran mayat.

Lokasi
Taman Ayun terletak di Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Dari kota Denpasar jaraknya lebih kurang 18 km menuju arah barat laut mengikuti jalan jurusan Denpasar-Singaraja melalui Bedugul. Agar sampai di lokasi lingkungan Pura dengan menggunakan kendaraan bermotor memerlukan waktu perjalanan sekitar 25 menit. Kendaraan umum juga ramai lalu lalang dari pagi hingga sore hari, sehingga masalah transportasi tidak ada kesulitan. Di sebelah kiri dan kanan lingkungan Pura terdapat komplek perkampungan penduduk dengan rumah-rumah tradisonalnya, sementara di seberang jalan terdapat jeram-jeram dengan parit yang berliku-liku.

Fasilitas
Di sebelah barat Taman Ayu terdapat bangunan Wisata Mandala yang dilengkapi dengan bar dan restauran untuk kepentingan para wisatawan. Demikian pula warung-warung yang menjual makanan dan minuman banyak pula ada di sebelah Selatan lingkungan Pura. Di sana juga ada Museum Manusa Yadnya yang memamerkan "Daur Hidup", taman bunga, toilet dan sarana parkir yang cukup memadai.

PANTAI KUTA

WISATA
PANTAI KUTA




Sejarah
300 tahun yang lalu telah dibangun sebuah konco di pinggir "Tukad Mati" dimana sungai tersebut, dahulu dapat dilayari. Perahu masuk ke pedalaman Kuta, sehingga Kuta merupakan sebuah pelabuhan dagang. Mads Longe seorang pedagang Denmark abad ke 19, mendirikan markas dagangnya di pinggir sungai tersebut.Selama tinggal di Bali dia sering menjadi perantara antara Raja-Raja Bali dan Belanda. Mads Longe meninggal secara misterius. Kuburan Mads Longe terletak di sebelah konco di pinggir sungai tersebut. Dahulu Kuta adalah sebuah desa nelayan yang sunyi, sekarang telah berubah menjadi kota kecil lengkap dengan kantor pos, kantor polisi, pasar, apotik, photo centre dan lain-lain. Sepanjang pantai pasir putih yang berbentuk bulan sabit tersebut terhampat banyak hotel mewah.

Lokasi
11 kilometer sebelah selatan Denpasar dan dapat dicapai dengan mudah menggunakan transportasi umum dari terminal bus Tegal dengan perjalanan kira-kira 15 menit.

Area
sekitarnya Kuta adalah wilayah yang semarak di Bali, dan merupakan sorga dari wisatawan mancanegara. Kuta memenuhi hampir semua kebutuhan wisatawan seperti pantai pasir putih, tempat yang sangat sempurna untuk berselancar,ber-restourant, kafetaria, disco dan lain-lain yang membuat kehidupan malam sangat mengesankan. Di sepanjang jalan banyak terdapat kios-kios yang menjual beraneka barang keperluan wisatawan seperti : pakaian, pita kaset, tiket pesawat udara dan lain-lain dengan harga murah.

MUSEUM BALI

WISATA
MUSEUM BALI




Identifikasi dan Daya Tarik
Museum Bali yang di bangun pada tahun 1910 menggunakan arsitektur tradisional dengan ornamen yang khas Bali. Struktur fisiknya mengikuti struktur fisik bangunan kraton (puri) atau tempat pemujaan (kahyangan, pura merajan) berdasarkan konsep trimanandala yaitu nista mandala jaba pisan ( bagian luar ) madya mandala : Jaba tengah ( bagian luar sebelum memasuki bagian inti), dan utama mandala jeroan (bagian inti). Di pojok depan sebelah kanan di bagian tengah terdapat sebuah bangunan yang disebut bale bengong.Dipojok depan sebelah kiri terdapat sebuah bangunan yang disebut bale kulkul. Di bagian inti (jeroan) terdapat bangunan yang terdiri dari tiga gedung yaitu gedung Tabanan di utara, gedung karangasem di tengah - tenagah, gedung Buleleng di sebelah selatan. Gedung Tabanan digunakan sebagai tampat pameran koleksi barang-barang kesenian dan etnografi, Gedung karangasem digunakan sebagai pameran benda- benda prasejarah, arkeologi sejarah, etnografi dan seni rupa serta beberapa lukisan morder. Gedung Buleleng digunakan sebagai tempat pameran koleksi alat-alat perlengkapan rumah tangga, alat-alat kerajinan, alat-alat pertanian dan nelayan, alat-alat hiburan, patung-patung gaya sedehana dan primitif yang terbuat dari tanah liat, batu dan lain sebagainya.

Lokasi
Museum Bali terletak dipusat kota Denapasar, di sebelah timur lapangan puputan Badung. Bentuk bangunannya memanjang dari utara ke selatan yang terbagi menjadi dua bgian. Bagian utara merupakan komplek bangunan lama yang direncanakan dan dibangun pada tahun 1910. Terdiri dari tiga gedung utama yaitu gedung Tabanan, gedung Karangasem dan Gedung Buleleng. Fungsinya adalah penyelenggararan pameran tetap. Bagian selatan merupakan komplek banguna baru yang dibangun tahun 1969. Di komplek bangunan baru ini terdapat gedung perpustakaan, gedung pameran sementara dan kerkyangan. Seluruh komplek bangunan baru berfungsi untuk administrasi dan penyelenggaraan pameran sementara atau pameran berkala yang diselenggarakan oleh Museum Bali sendri atau instansi tertentu lainnya. Pementasan atau pertunjukan kesenian juga dilakukan di komplek bangunan baru di bagian selatan.

Fasilitas
Fasilitas yang tersedia berupa gedung-gedung penyimpanan peninggalan sejarah dan etnografi sejak sejak masa prasejarah sampai masa modern tiga buah gedung yang dinamai gedung Tabanan, Karangasem dan Buleleng di bagian utara adalah tempat penyimpanan barang-barang kesenian barang etnografis, naskah-naskah kuno (prasasti), keramik, patung-patung porselin, alat-alat rumah tangga, alat-alat pertanian, senjata, alat-alat upacara, lukisan, wayang kulit dan lain sebagainya. Ketiga gedung penyimpanan barang-barang peninggalan masa lampau itu di fungsikan untuk tempat pameran tetap. Gedung-gedung baru di bagian selatan yang dibangun pada tahun 1969 merupakan pengembangan fasilitas guna memperlancar pelayanan bagi pengunjung. Tersedia fasilitas: perpustakaan, laboratorium, gedung untuk pameran sementara dan beberapa koleksi barang-barang peninggalan sejaman, kantor para karyawan. Di bagian depan sepanjang jalan Letkol Wisnu tersedia fasilitas parkir kendaraan bermotor bagi pengunjung. Tersedia pula sebuah kantin yang menjual minuman dan makanan untuk para pengunjung.

Kunjungan
Sangat ramai di kunjungi para wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.Kunjungan mereka bertujuan mencari dan mengetahui informasi mengenai kebudayaan Bali lewat koleksi peninggalan benda-benda masa lampau yang memiliki niali-nilai historis atau etnografis.

Deskripsi
Museum bali adalah museum penyimpanan peningggalan masa lampau manusia dan etnografi. Struktur fisik bangunannya merupakan perpaduan struktur fisik atau kraton, dan banyak koleksinya terdiri dari benda-benda etnografi antara lain peralatan dan prlengkapan hidup, kesenian, keagamaan, bahasa tulisan dan lain-lainnya yang mencerminkan kehidupan dan perkembangan kebudayaan bali. Gagasan mendirikan museum Bali dicetuskan pertama kali oleh W.F.J. Kroon (1909-1913) Asisten Residen Bali Seltan di Denpasar. Gagasannya terwujud dengan berdirinya sebuah geung yang disebut Gedung Arca pada tahun 1910. Paraa arsiteknya adalah I Gusti gede Ketut Kandeldari banjar abasan dan Igusti Ketut Rai dari banjar Belong bersama seorang arsitek jerman yaitu Curt Grundler. Sokongan dana dan material berasal dari raja-raja yaitu Buleleng, Tabanan, Badung dan KArangasem. Gagasan W.F. sttuterhim Kepala dinas purbakala, melanjutkan usaha-usaha melengkapi museum dengan peninggalan etnografi pada tahun 1930. Untuk memperlancar pengelolaan museum maka dibentuklah sebuah yayasan yang diketuai oleh H.R. Ha'ak, penulis G.J Grader, bendahara G.M.Hendrikss, para anggota R. Goris, I gusti Ngurah Alit raja Badung, I Gusti Bagus Negara dan W.Spies. Personalia yayasan disahkan pada tanggal 8 Desember 1932 dan sekaligus Museum BAli dibuka untuk umum. Gedung TAbanan, Gedung Karanmgasem dan Gedung Buleleng dibuka untuk pameran tetap dengan koleksi dari benda-benda prasejarah, sejarah, etnografi termasuk seni rupa. Tujuan didirikannya Museum Bali adalah untuk menampung, menyimpan, melestarikan benda-benda budaya masa lampau agar dapat memberikan suluh bagi generasi sekarang dan mendatang. Jumlah koleksi Museum Bali yang telah tercatat dan masuk registerasi sebanyak 10.506 buah, termasuk naskah-naskah dan salinan lontar. Semua jenis koleksi didapoatkan melalui membeli dari orang-orangdi masyarakat, toko-toko kesenian hadiah-hadiah dan titipan. Beberapa kelompok koleksi yang sedang diinventarisasikan diantaranya koleksi stupa dengan materainya yang berjumlah ratusan buah, 8,5 kg uang kepeng, keramik asing (eropa, cina) dan porselin yang berasal dari Jepang, Cina dan Siam.