Rabu, 09 April 2008

Sorga dan Neraka di Pura Dalem Puri

Sorga dan Neraka di Pura Dalem Puri

Indriyanyeva tat sarvam yat
Svarganarakavubhau nirgrhitanissrstani
svargaya narakaya ca.
(Sarasamuscaya.71)

Maksudnya:
Nafsu indrialah sebagai penyebab orang masuk sorga atau neraka. Jika nafsu itu dikuasai pengendaliannya maka sorgalah sebagai pahalanya. Apabila nafsu tersebut tidak mampu dikuasai maka nerakalah sebagai pahalanya.

AJARAN sastra Hindu sudah banyak sekali menguraikan tentang keindahan dan suka cita yang akan didapatkan bagi mereka yang dapat mencapai sorga dan derita yang akan menimpa mereka yang ada di neraka. Menanamkan keyakinan pada umat tentang adanya sorga dan neraka bukanlah semudah teorinya. Apalagi dewasa ini umat sudah semakin kuat daya logikanya. Karena itu keyakinan tentang adanya sorga dan neraka itu perlu ditempuh dengan berbagai cara.

Uraian tentang adanya sorga dan neraka itu perlu ditanamkan pada umat dengan segala cara asalkan tetap dalam bingkai batasan konsepsi spiritual untuk membangkitkan kecerdasan intelektual dengan pendekatan kepekaan kelembutan emosional. Ajaran tentang adanya sorga dan neraka yang ada dalam tattwa, susila dan mitologi Hindu itu divisualisasikan juga dalam
sistem pemujaan Hindu di Bali.

Nampaknya cara pemikiran itulah yang menjadi latar belakang didirikannya Pura Dalem Puri sebagai salah satu kompleks Pura Besakih. Karena Pura Besakih secara keseluruhan adalah simbol Bhuwana Agung. Bhuwana Agung itu terdiri atas alam bawah yang disebut Soring Ambal-ambal dan lambang alam atas yaitu Luhuring Ambal-ambal. Dalam Sarasamuscaya alam atas itu disebut juga Para Loka. Para Loka itu terdiri atas sorga dan neraka. Para Loka inilah yang divisualisasikan dalam wujud simbol sakral sebagai Pura Dalem Puri.

Letak Pura Dalem Puri ini kurang lebih satu kilometer di barat Pura Penataran Agung Besakih. Di pura ini divisualisasikan keberadaan sorga dan neraka sesuai dengan konsep ajaran Hindu Siwa Sidhanta. Di pura ini Tuhan dipuja sebagai Batari Uma Dewi yang juga disebut Dewi Durgha. Pura ini sebagai simbol pengadilan Tuhan kepada Pitara atau roh manusia yang telah meninggal menuju alam suksma atau Para Loka.

Di areal Pura Dalem Puri di samping ada pelinggih atau bangunan suci tempat memuja Tuhan sebagai Batari Uma Dewi ada juga areal yang letaknya di luar pembatas pura yang disebut Tegal Penangsaran simbol Neraka Loka. Pura Dalemnya yang ada di jeroan atau dalam tembok pembatas pura simbol Sorga. Sedangkan di luarnya yang disebut Tegal Penangsaran simbol
Neraka. Roh orang yang dalam kehidupannya di dunia ini lebih banyak berbuat sharma daripada adharma akan diterima di Pura Dalem Puri. Sedangkan roh orang yang selama hidupnya di dunia lebih banyak adharmanya akan masuk neraka yang disimbolkan atau divisualisasikan dengan Tegal Penangsaran.

Pura Dalem Puri ini tergolong pura stana saktinya atau kekuatan magis religiusnya dari Dewa Siwa yang disebut dengan Uma Dewi atau Dewi Durgha. Karena itu pintu masuk Pura Dalem Puri ini berhadap-hadapan dengan pintu masuk Pura Penataran Agung Besakih yang berbentuk Candi Bentar.

Umat Hindu Siwa Sidhanta di Bali percaya bahwa roh orang yang telah meninggal itu semuanya disimbolkan menuju alam gaib yang disebut Para Loka. Roh yang baik itu disimbolkan dan diterima di Pura Dalem Puri. Inilah simbol Sorga. Sedangkan yang belum diterima di sorga diterima di neraka yang disimbolkan oleh areal Tegal Penangsaran. Roh atau Atman
yang berada di Tegal Penangsaran dapat berpindah ke areal di dalam Pura Dalem Puri apabila keturunannya melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk menebus dosa-dosa leluhur, keturunan dan diri sendiri haruslah dengan perbuatan dharma yang berguna bagi semua pihak.

Tentunya perbuatan baik itu bukan hanya upacara saja. Ia dapat dilakukan dengan banyak cara. Dengan adanya Pura Dalem Puri dengan Tegal Penangsarannya itu seharusnya umat Hindu dapat termotivasi untuk lebih banyak berbuat baik. Perbuatan baik itu tidak untuk kebaikan dirinya semata, tetapi juga untuk kebaikan leluhur dan keturunan kelak.

Pura Dalem Puri ini adalah hulunya Pura Dalem Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali. Kalau melangsungkan upacara Nuntun Dewa Pitara ke pura pemujaan keluarga yang disebut Merajan itu sesungguhnya tidak mutlak harus ke Pura Dalem Puri. Hal itu dapat dilakukan di Pura Dalem di Kahyangan Tiga di desa pakraman. Tetapi tidak salah juga kalau memang ada yang Nuntun Dewa Pitara-nya ke Pura Dalem Puri di Besakih.

Upacara Nuntun Dewa Pitara itu adalah upacara yang berfungsi untuk menstanakan roh leluhur yang telah selesai upacara ngaben dan memukur. Menurut Lontar Gayatri Roh, orang yang meninggal disebut Presta. Setelah upacara penyucian tahap pertama yang disebut ngaben itu maka roh tersebut meningkat dan disebut Pitara. Selanjutnya dilakukan upacara penyucian
tahap kedua yang disebut Atma Wedana seperti upacara Nyekah atau Memukur.

Setelah upacara penyucian tahap kedua itu roh tadi disebut Dewa Pitara. Artinya roh yang telah lebih suci dan mencapai alam dewa yang disimbolkan di Pura Dalem Puri. Karena itu upacara menstanakan roh suci leluhur itu dilakukan dari Pura Dalem Puri atau Pura Dalem Kahyangan Tiga di desa pakraman terus di-tuntun dan di stanakan di Merajan Kemulan.
Menstanakan Dewa Pitara di Merajan Kemulan amat jelas diuraikan dalam Lontar Purwa Bumi Kamulan.

Dewa Pitara yang distanakan di Merajan Kamulan itu dapat disembah sebagai Batara Hyang Guru oleh pratisentana-nya. Kata ”Batara” dalam bahasa Sansekerta artinya pelindung. Kata ”Batara” ini telah mewarga ke dalam bahasa Jawa Kuno dan bahasa Bali. Sedangkan kata ”Hyang” dalam bahasa Jawa Kuna artinya suci. Jadinya roh yang telah suci itulah yang
dapat disembah sebagai Batara Hyang Guru.

Di Pura Dalem Puri, Tuhan dipuja sebagai Batari Uma Dewi atau Durga Dewi atau juga disebut Batari Giri Putri yang distanakan di Pelinggih Gedong beratap ijuk. Di luar tembok pura ada Pelinggih Prajapati tempat memuja Sang Hyang Prajapati penguasa roh manusia yang menuju alam niskala atau atau Para Loka. Di sinilah pengadilan pertama roh yang telah lepas dari badan wadahnya. Bisa masuk sorga dan juga bisa masuk neraka tergantung kamarnya dalam kehidupannya di bumi ini. *

Tidak ada komentar: