Rabu, 09 April 2008

Sorga dan Neraka di Pura Dalem Puri

Sorga dan Neraka di Pura Dalem Puri

Indriyanyeva tat sarvam yat
Svarganarakavubhau nirgrhitanissrstani
svargaya narakaya ca.
(Sarasamuscaya.71)

Maksudnya:
Nafsu indrialah sebagai penyebab orang masuk sorga atau neraka. Jika nafsu itu dikuasai pengendaliannya maka sorgalah sebagai pahalanya. Apabila nafsu tersebut tidak mampu dikuasai maka nerakalah sebagai pahalanya.

AJARAN sastra Hindu sudah banyak sekali menguraikan tentang keindahan dan suka cita yang akan didapatkan bagi mereka yang dapat mencapai sorga dan derita yang akan menimpa mereka yang ada di neraka. Menanamkan keyakinan pada umat tentang adanya sorga dan neraka bukanlah semudah teorinya. Apalagi dewasa ini umat sudah semakin kuat daya logikanya. Karena itu keyakinan tentang adanya sorga dan neraka itu perlu ditempuh dengan berbagai cara.

Uraian tentang adanya sorga dan neraka itu perlu ditanamkan pada umat dengan segala cara asalkan tetap dalam bingkai batasan konsepsi spiritual untuk membangkitkan kecerdasan intelektual dengan pendekatan kepekaan kelembutan emosional. Ajaran tentang adanya sorga dan neraka yang ada dalam tattwa, susila dan mitologi Hindu itu divisualisasikan juga dalam
sistem pemujaan Hindu di Bali.

Nampaknya cara pemikiran itulah yang menjadi latar belakang didirikannya Pura Dalem Puri sebagai salah satu kompleks Pura Besakih. Karena Pura Besakih secara keseluruhan adalah simbol Bhuwana Agung. Bhuwana Agung itu terdiri atas alam bawah yang disebut Soring Ambal-ambal dan lambang alam atas yaitu Luhuring Ambal-ambal. Dalam Sarasamuscaya alam atas itu disebut juga Para Loka. Para Loka itu terdiri atas sorga dan neraka. Para Loka inilah yang divisualisasikan dalam wujud simbol sakral sebagai Pura Dalem Puri.

Letak Pura Dalem Puri ini kurang lebih satu kilometer di barat Pura Penataran Agung Besakih. Di pura ini divisualisasikan keberadaan sorga dan neraka sesuai dengan konsep ajaran Hindu Siwa Sidhanta. Di pura ini Tuhan dipuja sebagai Batari Uma Dewi yang juga disebut Dewi Durgha. Pura ini sebagai simbol pengadilan Tuhan kepada Pitara atau roh manusia yang telah meninggal menuju alam suksma atau Para Loka.

Di areal Pura Dalem Puri di samping ada pelinggih atau bangunan suci tempat memuja Tuhan sebagai Batari Uma Dewi ada juga areal yang letaknya di luar pembatas pura yang disebut Tegal Penangsaran simbol Neraka Loka. Pura Dalemnya yang ada di jeroan atau dalam tembok pembatas pura simbol Sorga. Sedangkan di luarnya yang disebut Tegal Penangsaran simbol
Neraka. Roh orang yang dalam kehidupannya di dunia ini lebih banyak berbuat sharma daripada adharma akan diterima di Pura Dalem Puri. Sedangkan roh orang yang selama hidupnya di dunia lebih banyak adharmanya akan masuk neraka yang disimbolkan atau divisualisasikan dengan Tegal Penangsaran.

Pura Dalem Puri ini tergolong pura stana saktinya atau kekuatan magis religiusnya dari Dewa Siwa yang disebut dengan Uma Dewi atau Dewi Durgha. Karena itu pintu masuk Pura Dalem Puri ini berhadap-hadapan dengan pintu masuk Pura Penataran Agung Besakih yang berbentuk Candi Bentar.

Umat Hindu Siwa Sidhanta di Bali percaya bahwa roh orang yang telah meninggal itu semuanya disimbolkan menuju alam gaib yang disebut Para Loka. Roh yang baik itu disimbolkan dan diterima di Pura Dalem Puri. Inilah simbol Sorga. Sedangkan yang belum diterima di sorga diterima di neraka yang disimbolkan oleh areal Tegal Penangsaran. Roh atau Atman
yang berada di Tegal Penangsaran dapat berpindah ke areal di dalam Pura Dalem Puri apabila keturunannya melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk menebus dosa-dosa leluhur, keturunan dan diri sendiri haruslah dengan perbuatan dharma yang berguna bagi semua pihak.

Tentunya perbuatan baik itu bukan hanya upacara saja. Ia dapat dilakukan dengan banyak cara. Dengan adanya Pura Dalem Puri dengan Tegal Penangsarannya itu seharusnya umat Hindu dapat termotivasi untuk lebih banyak berbuat baik. Perbuatan baik itu tidak untuk kebaikan dirinya semata, tetapi juga untuk kebaikan leluhur dan keturunan kelak.

Pura Dalem Puri ini adalah hulunya Pura Dalem Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali. Kalau melangsungkan upacara Nuntun Dewa Pitara ke pura pemujaan keluarga yang disebut Merajan itu sesungguhnya tidak mutlak harus ke Pura Dalem Puri. Hal itu dapat dilakukan di Pura Dalem di Kahyangan Tiga di desa pakraman. Tetapi tidak salah juga kalau memang ada yang Nuntun Dewa Pitara-nya ke Pura Dalem Puri di Besakih.

Upacara Nuntun Dewa Pitara itu adalah upacara yang berfungsi untuk menstanakan roh leluhur yang telah selesai upacara ngaben dan memukur. Menurut Lontar Gayatri Roh, orang yang meninggal disebut Presta. Setelah upacara penyucian tahap pertama yang disebut ngaben itu maka roh tersebut meningkat dan disebut Pitara. Selanjutnya dilakukan upacara penyucian
tahap kedua yang disebut Atma Wedana seperti upacara Nyekah atau Memukur.

Setelah upacara penyucian tahap kedua itu roh tadi disebut Dewa Pitara. Artinya roh yang telah lebih suci dan mencapai alam dewa yang disimbolkan di Pura Dalem Puri. Karena itu upacara menstanakan roh suci leluhur itu dilakukan dari Pura Dalem Puri atau Pura Dalem Kahyangan Tiga di desa pakraman terus di-tuntun dan di stanakan di Merajan Kemulan.
Menstanakan Dewa Pitara di Merajan Kemulan amat jelas diuraikan dalam Lontar Purwa Bumi Kamulan.

Dewa Pitara yang distanakan di Merajan Kamulan itu dapat disembah sebagai Batara Hyang Guru oleh pratisentana-nya. Kata ”Batara” dalam bahasa Sansekerta artinya pelindung. Kata ”Batara” ini telah mewarga ke dalam bahasa Jawa Kuno dan bahasa Bali. Sedangkan kata ”Hyang” dalam bahasa Jawa Kuna artinya suci. Jadinya roh yang telah suci itulah yang
dapat disembah sebagai Batara Hyang Guru.

Di Pura Dalem Puri, Tuhan dipuja sebagai Batari Uma Dewi atau Durga Dewi atau juga disebut Batari Giri Putri yang distanakan di Pelinggih Gedong beratap ijuk. Di luar tembok pura ada Pelinggih Prajapati tempat memuja Sang Hyang Prajapati penguasa roh manusia yang menuju alam niskala atau atau Para Loka. Di sinilah pengadilan pertama roh yang telah lepas dari badan wadahnya. Bisa masuk sorga dan juga bisa masuk neraka tergantung kamarnya dalam kehidupannya di bumi ini. *

Saatnya kembali pada Dharma

Saatnya kembali pada Dharma

OM Swastyastu, Namaskar
Bencana dan Malapetaka menimpa Bumi Nusantara silih berganti, kematian dan penderitaan di mana - mana. Itu merupakan tanda agar kita semua kembali kepada Dharma. Terlalu jauh kita semua meninggalkan Dharma, sehingga kita harus tertimpa segala derita.

Banyak keyakinan lain menawarkan solusi untuk segala problem yang timbul tersebut. tapi yakinlah bahwa Dharma adalah satu - satunya solusi kita untuk melewati Kaliyuga dengan selamat.Keyakinan lain hanya mengajarkan kita untuk percaya kepada Tuhan. Namun di Kaliyuga ini percaya kepada Tuhan saja tidak cukup. Janji - janji keselamatan menjadi omong kosong di Kaliyuga ini.

Memahami dan Menjalankan Dharma kita sebagai manusia adalah satu - satunya jalan keselamatan. Bukan sekedar berwacana, kita harus belajar dan bertindak. Dharma manusia adalah secepat - cepatnya memahami diri sejati (Atman) dan berusaha mengenal Brahman dan memahami bahwa manusia dan Semesta Alam satu adanya. Atman dan Brahman adalah satu (Atman Brahman Ekyam). Dengan kesadaran tersebut kita harus bertindak menjaga alam dan mencintai sesama. hanya dengan demikian kelangsungan hidup manusia di planet Bumi dapat berkelanjutan.

Ajaran Dharma mengajarkan kita untuk merasa bagian dari alam semesta. Ajaran dharma mengajarkan kehormatan manusia dan bagaimana menghormati Alam dan seluruh isinya. bukan alih - alih menganggap diri ciptaan tertinggi dan mahluk termulia di hadapan Tuhannya, sehingga dengan arogan bertindak semena - mena terhadap alam.

Kerusakan alam yang berujung bencana berawal dari kesalahan konsep diatas. manusia menjadi arogan dan lupa bahwa manusia juga adalah bagian dari ekosistem yang bernama Bumi. manusia dengan didukung keyakinan dan tafsir yang keliru serta tehnologi yang tidak ramah lingkungan, dengan semena -mena merusak alam. Tidak ada satupun keyakinan diluar Dharma yang mengajarkan kepedulian terhadap semesta alam. Dharma mengajarkan kita untuk menghormati alam layaknya anggota keluarga. Pertiwi adalah ibu kita, Gunung adalah saudara tua kita, binatang dan tumbuhan adalah saudara - saudara kita. semuanya membentuk ekosistem yang saling tergantung satu dengan yang lain. tidak ada yang derajat lebih tinggi atau lebih rendah. Kerusakan komponen yang satu akan berakibat kerusakan bagi yang lain. Hal tersebut yang tidak pernah disadari oleh manusia dan pengetahuan modernnya yang hanya berpikir parsial.

Ajaran Dharma memancarkan cinta kasih Universal. Dharma ada bagi seisi alam,bukan untuk sebagian umat atau kaum semata.Brahman adil adanya, tidak pernah menunjuk salah satu bangsa sebagai bangsa pilihan. Tuhan yang hanya mengasihi sebagian manusia, tidak pantas disebut Tuhan dan tidak layak disembah. Apatah artinya Maha Adil bila terhadap bangsa saja pilih kasih. Dharma tidak pernah mengajarkan membunuh orang diluar Dharma. Dharma tidak pernah mengkafirkan orang. Dharma tidak memerlukan promosi, iklan dan intimidasi agar tetap diakui. Keyakinan sejati tidak perlu pembelaan dari umatnya. Manusia yang waras pikirannya, pasti bisa membedakan kesejatian Dharma dan hanya orang gila yang mau menganut kepalsuan.

Hukum Karma sebagai bagian dari Dharma, berlaku bagi siapa dan apa saja. Tidak ada perkecualian dalam Karma. Siapa yang menabur akan menuai (Sapa nandur bakal ngunduh, ngunduh wohing pakarti). Percaya atau tidak percaya tidak menjadi soal, Hukum Karma akan berlaku bagi yang percaya maupun tidak.Hukum Karma adalah adil seadil - adilnya, tidak mengenal kolusi,nepotisme dan kebal terhadap suap. Tidak perduli apa keyakinannya, tidak perduli siapa gurunya, nabinya, juru selamatnya dan apa status sosialnya, keturunan serta warna kulitnya. Hukum Karma tidak terpengaruh SARA, tidak ada diskriminasi dalam Hukum Karma.

Setelah membaca fakta - fakta diatas, semoga saudara - saudara sekalian sadar dan semakin yakin bahwa kita terhubung pada ajaran tersempurna di kolong jagad. Bukan sekedar klaim sebagai yang terakhir. Bukan juga yang hadir untuk menggenapi ajaran terdahulu. Dharma ada untuk kebaikan seisi alam. Sekarang tergantung kita apakah kita sanggup menerapkan ajaran Dharma dalam kehidupan ini. Sudah waktunya kita untuk kembali kepada Dharma. Hanya Dharma yang akan mengangtarkan kita kepada kesatuan Atman dan Brahman (Manunggaling Kawula lan Gusti).

Demikian sekilas pemahaman saya terhadap ajaran Dharma, semoga bermanfaat. Dan mohon maaf bila ada silap kata. Semoga kebenaran datang dari segala arah.

OM Shivaya Nama Bhudaya

PURA ULUWATU

WISATA
PURA ULUWATU




Sejarah
Bongkahan batu karang di lokasi pura tersebut menurut legenda merupakan metamorphose dari Dewi Danu dan Dewi Air. Lingkungan Pura Luhur Uluwatu diperkirakan didirikan sekitar abad ke 11, sejaman dengan Empu Kuturan mendirikan Pelinggih lingkungan Pura Besakih. Tempat ini dipilih oleh Pendeta Danghyang Nirarta untuk mencapai moksa (menyatu dengan Sang Hyang Pencipta). Semak-semak di sekitar lingkungan Pura dijaga oleh kera-kera jinak yang dilindungi oleh masyarakat.

Lokasi
Uluwatu terletak di daerah perbukitan batu karang di sebelah selatan Pulau Bali. Termasuk wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabuaten Badung. Untuk mencapai Uluwatu dari kota Denpasar berjarak kurang lebih 30 km ke arah Selatan melalui kawasan pariwisata Kuta, Badara Ngurah Rai Tuban dan Desa Jimbaran. Tempat ini sangat baik untuk berolahraga papan selancar sepanjang tahun. Lingkungan di sekitar ULuwatu sangat kering sehingga air sangat sulit didapatkan.

Fasilitas
Di dekat lingkungan Pura Luhur Uluwatu tersedia tempat parkir yang cukup luas. Kios-kios souvenir serta warung-warung minuman dan makanan kecil juga tersedia di sekitar tempat itu. Toilet untuk umum terdapat di pojok tenggara tempat parkir.

SANGEH

WISATA
SANGEH




Sejarah
Pada abad ke 17 dijaman keemasan kerajaan Mengwi, I Gusti Agung Ketut Karangasem putra dari I Gusti Agung Made Agung (Raja Mengwi), mendirikan pura di tengah pohon pala yang selanjutnya diberi nama Pura Bukit Sari. Hutan pohon pala yang merupakan areal suci Pura yang dikeramatkan oleh masyarakat Desa Adat Sangeh dan sekitarnya, sehingga berfungsi sakral disamping berkembang menjadi obyek kunjungan wisatawan mancanegara. Di tengah hutan lebat yang hijau terdapat lebih kurang 500 ekor kera jinak yang sering mempesona wisatawan manca negara.

Lokasi
Sangeh terletak 20 km di sebelah utara Denpasar, di seberang jalan menuju Pelaga, kira-kira 30 menit dari Denpasar dengan transportasi umum.

Fasilitas
Di sekitar obyek wisata terdapat tempat parkir, kios souvenir, kios makanan, jalan setapak dan lain-lain. Transportasi ke obyek sangat lancar karena kendaraan umum jurusan Denpasar-Blahkiuh sudah merupakan jaringan transportasi umum.


PURA TAMAN AYUN

WISATA
PURA TAMAN AYUN




Sejarah
Sebuah lingkungan pura kerajaan yag dibangun tahun 1634. Lingkungan Pura tersebut dikelilingi oleh kolam berisi teratai, kira-kira 300 meter sebelah istana kerajaan Mengwi. Lingkungan pura dengan tiga halaman yang hijau oleh tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumputan yang terpelihara, dihiasi oleh barisan meru, paibon dan Padmasana Singgasana Sang Hyang Tri Murti. Dan di seberang lingkungan pura juga terdapat Museum Manusa Yadnya , yaitu Museum upacara kemanusiaan sejak manusia dalam kandungan sampai dengan pembongkaran mayat.

Lokasi
Taman Ayun terletak di Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Dari kota Denpasar jaraknya lebih kurang 18 km menuju arah barat laut mengikuti jalan jurusan Denpasar-Singaraja melalui Bedugul. Agar sampai di lokasi lingkungan Pura dengan menggunakan kendaraan bermotor memerlukan waktu perjalanan sekitar 25 menit. Kendaraan umum juga ramai lalu lalang dari pagi hingga sore hari, sehingga masalah transportasi tidak ada kesulitan. Di sebelah kiri dan kanan lingkungan Pura terdapat komplek perkampungan penduduk dengan rumah-rumah tradisonalnya, sementara di seberang jalan terdapat jeram-jeram dengan parit yang berliku-liku.

Fasilitas
Di sebelah barat Taman Ayu terdapat bangunan Wisata Mandala yang dilengkapi dengan bar dan restauran untuk kepentingan para wisatawan. Demikian pula warung-warung yang menjual makanan dan minuman banyak pula ada di sebelah Selatan lingkungan Pura. Di sana juga ada Museum Manusa Yadnya yang memamerkan "Daur Hidup", taman bunga, toilet dan sarana parkir yang cukup memadai.

PANTAI KUTA

WISATA
PANTAI KUTA




Sejarah
300 tahun yang lalu telah dibangun sebuah konco di pinggir "Tukad Mati" dimana sungai tersebut, dahulu dapat dilayari. Perahu masuk ke pedalaman Kuta, sehingga Kuta merupakan sebuah pelabuhan dagang. Mads Longe seorang pedagang Denmark abad ke 19, mendirikan markas dagangnya di pinggir sungai tersebut.Selama tinggal di Bali dia sering menjadi perantara antara Raja-Raja Bali dan Belanda. Mads Longe meninggal secara misterius. Kuburan Mads Longe terletak di sebelah konco di pinggir sungai tersebut. Dahulu Kuta adalah sebuah desa nelayan yang sunyi, sekarang telah berubah menjadi kota kecil lengkap dengan kantor pos, kantor polisi, pasar, apotik, photo centre dan lain-lain. Sepanjang pantai pasir putih yang berbentuk bulan sabit tersebut terhampat banyak hotel mewah.

Lokasi
11 kilometer sebelah selatan Denpasar dan dapat dicapai dengan mudah menggunakan transportasi umum dari terminal bus Tegal dengan perjalanan kira-kira 15 menit.

Area
sekitarnya Kuta adalah wilayah yang semarak di Bali, dan merupakan sorga dari wisatawan mancanegara. Kuta memenuhi hampir semua kebutuhan wisatawan seperti pantai pasir putih, tempat yang sangat sempurna untuk berselancar,ber-restourant, kafetaria, disco dan lain-lain yang membuat kehidupan malam sangat mengesankan. Di sepanjang jalan banyak terdapat kios-kios yang menjual beraneka barang keperluan wisatawan seperti : pakaian, pita kaset, tiket pesawat udara dan lain-lain dengan harga murah.

MUSEUM BALI

WISATA
MUSEUM BALI




Identifikasi dan Daya Tarik
Museum Bali yang di bangun pada tahun 1910 menggunakan arsitektur tradisional dengan ornamen yang khas Bali. Struktur fisiknya mengikuti struktur fisik bangunan kraton (puri) atau tempat pemujaan (kahyangan, pura merajan) berdasarkan konsep trimanandala yaitu nista mandala jaba pisan ( bagian luar ) madya mandala : Jaba tengah ( bagian luar sebelum memasuki bagian inti), dan utama mandala jeroan (bagian inti). Di pojok depan sebelah kanan di bagian tengah terdapat sebuah bangunan yang disebut bale bengong.Dipojok depan sebelah kiri terdapat sebuah bangunan yang disebut bale kulkul. Di bagian inti (jeroan) terdapat bangunan yang terdiri dari tiga gedung yaitu gedung Tabanan di utara, gedung karangasem di tengah - tenagah, gedung Buleleng di sebelah selatan. Gedung Tabanan digunakan sebagai tampat pameran koleksi barang-barang kesenian dan etnografi, Gedung karangasem digunakan sebagai pameran benda- benda prasejarah, arkeologi sejarah, etnografi dan seni rupa serta beberapa lukisan morder. Gedung Buleleng digunakan sebagai tempat pameran koleksi alat-alat perlengkapan rumah tangga, alat-alat kerajinan, alat-alat pertanian dan nelayan, alat-alat hiburan, patung-patung gaya sedehana dan primitif yang terbuat dari tanah liat, batu dan lain sebagainya.

Lokasi
Museum Bali terletak dipusat kota Denapasar, di sebelah timur lapangan puputan Badung. Bentuk bangunannya memanjang dari utara ke selatan yang terbagi menjadi dua bgian. Bagian utara merupakan komplek bangunan lama yang direncanakan dan dibangun pada tahun 1910. Terdiri dari tiga gedung utama yaitu gedung Tabanan, gedung Karangasem dan Gedung Buleleng. Fungsinya adalah penyelenggararan pameran tetap. Bagian selatan merupakan komplek banguna baru yang dibangun tahun 1969. Di komplek bangunan baru ini terdapat gedung perpustakaan, gedung pameran sementara dan kerkyangan. Seluruh komplek bangunan baru berfungsi untuk administrasi dan penyelenggaraan pameran sementara atau pameran berkala yang diselenggarakan oleh Museum Bali sendri atau instansi tertentu lainnya. Pementasan atau pertunjukan kesenian juga dilakukan di komplek bangunan baru di bagian selatan.

Fasilitas
Fasilitas yang tersedia berupa gedung-gedung penyimpanan peninggalan sejarah dan etnografi sejak sejak masa prasejarah sampai masa modern tiga buah gedung yang dinamai gedung Tabanan, Karangasem dan Buleleng di bagian utara adalah tempat penyimpanan barang-barang kesenian barang etnografis, naskah-naskah kuno (prasasti), keramik, patung-patung porselin, alat-alat rumah tangga, alat-alat pertanian, senjata, alat-alat upacara, lukisan, wayang kulit dan lain sebagainya. Ketiga gedung penyimpanan barang-barang peninggalan masa lampau itu di fungsikan untuk tempat pameran tetap. Gedung-gedung baru di bagian selatan yang dibangun pada tahun 1969 merupakan pengembangan fasilitas guna memperlancar pelayanan bagi pengunjung. Tersedia fasilitas: perpustakaan, laboratorium, gedung untuk pameran sementara dan beberapa koleksi barang-barang peninggalan sejaman, kantor para karyawan. Di bagian depan sepanjang jalan Letkol Wisnu tersedia fasilitas parkir kendaraan bermotor bagi pengunjung. Tersedia pula sebuah kantin yang menjual minuman dan makanan untuk para pengunjung.

Kunjungan
Sangat ramai di kunjungi para wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.Kunjungan mereka bertujuan mencari dan mengetahui informasi mengenai kebudayaan Bali lewat koleksi peninggalan benda-benda masa lampau yang memiliki niali-nilai historis atau etnografis.

Deskripsi
Museum bali adalah museum penyimpanan peningggalan masa lampau manusia dan etnografi. Struktur fisik bangunannya merupakan perpaduan struktur fisik atau kraton, dan banyak koleksinya terdiri dari benda-benda etnografi antara lain peralatan dan prlengkapan hidup, kesenian, keagamaan, bahasa tulisan dan lain-lainnya yang mencerminkan kehidupan dan perkembangan kebudayaan bali. Gagasan mendirikan museum Bali dicetuskan pertama kali oleh W.F.J. Kroon (1909-1913) Asisten Residen Bali Seltan di Denpasar. Gagasannya terwujud dengan berdirinya sebuah geung yang disebut Gedung Arca pada tahun 1910. Paraa arsiteknya adalah I Gusti gede Ketut Kandeldari banjar abasan dan Igusti Ketut Rai dari banjar Belong bersama seorang arsitek jerman yaitu Curt Grundler. Sokongan dana dan material berasal dari raja-raja yaitu Buleleng, Tabanan, Badung dan KArangasem. Gagasan W.F. sttuterhim Kepala dinas purbakala, melanjutkan usaha-usaha melengkapi museum dengan peninggalan etnografi pada tahun 1930. Untuk memperlancar pengelolaan museum maka dibentuklah sebuah yayasan yang diketuai oleh H.R. Ha'ak, penulis G.J Grader, bendahara G.M.Hendrikss, para anggota R. Goris, I gusti Ngurah Alit raja Badung, I Gusti Bagus Negara dan W.Spies. Personalia yayasan disahkan pada tanggal 8 Desember 1932 dan sekaligus Museum BAli dibuka untuk umum. Gedung TAbanan, Gedung Karanmgasem dan Gedung Buleleng dibuka untuk pameran tetap dengan koleksi dari benda-benda prasejarah, sejarah, etnografi termasuk seni rupa. Tujuan didirikannya Museum Bali adalah untuk menampung, menyimpan, melestarikan benda-benda budaya masa lampau agar dapat memberikan suluh bagi generasi sekarang dan mendatang. Jumlah koleksi Museum Bali yang telah tercatat dan masuk registerasi sebanyak 10.506 buah, termasuk naskah-naskah dan salinan lontar. Semua jenis koleksi didapoatkan melalui membeli dari orang-orangdi masyarakat, toko-toko kesenian hadiah-hadiah dan titipan. Beberapa kelompok koleksi yang sedang diinventarisasikan diantaranya koleksi stupa dengan materainya yang berjumlah ratusan buah, 8,5 kg uang kepeng, keramik asing (eropa, cina) dan porselin yang berasal dari Jepang, Cina dan Siam.

TAMAN UJUNG

WISATA
TAMAN UJUNG




Identifikasi dan Daya Tarik
Taman Ujung mulai dibangun pada tahun 1919 dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1921. Taman ini dibangun oleh raja Karangsem yang digunakan sebagai tempat peristirahatan atau untuk menjamu tamu-tamu penting seperti raja-raja atau Kepala Pemerintahan Negara Asing yang berkunjung ke kerajaan Karangasem. Di taman ini terdapat tiga buah kolam besar dan luas, di tengah kolam paling utara terdapat bangunan utama yang dihubungkan oleh dua buah jembatan. Di sebelah kolam terdapat taman dan pot bunga serta patung-patung. Bentuk bangunan sangat megah dan khas karena perpaduan antara arsitektur Eropah dan Bali. Di sebelah Barat kolam di tempat yang agak tinggi terdapat sebuah bangunan yang berbentuk bundar disebut "Bale Bengong" tempat untuk menikmati keindahan taman dan sekitarnya. Untuk mencapai puncak perbukitan sebelah Barat Taman dibuat undak-undakan yang tinggi dan lebar. Di sebelah Utara taman di atas bukit terdapat patung Warak yang besar di bawahnya patung banteng dan dari mulut kedua patung ini air memancur keluar menuju kolam. Dari puncak bukit ini kita dapat menyaksikan pemandangan alam yang betul-betul indah dan mengagumkan. Jauh di sebelah Timur Laut terlihat bukit Bisbis yang hutannya subur menghijau, di arah Selatan terlihat laut luas membentang dan di sekitar Taman terlihat petak-petak sawah menghijau perpaduan alam pegunungan dan alam laut inilah yang merupakan daya tarik taman ini bagi para wisatawan. Sayang peninggalan budaya yang megah ini telah hancur akibat gempa bumi yang terjadi pada waktu Gunung Agung meletus, terutama sekali akibat gempa yang terjadi tahun 1979. Meskipun kini tinggal puing-puing saja, tapi kesan megah di masa lalu masih tampak dan keindahan panoramanya tetap mengagumkan.

lokasi
Taman Ujung terletak dekat pantai kawasan Ujung, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem. Jaraknya 5 Km dari kota Amlapura ke arah Selatan, dan kira-kira 85 Km dari kota Denpasar. Dan obyek ini mudah dicapai dengan kendaraan roda empat.

Deskripsi
Taman Ujung dibangun oleh raja Karangsem pada tahun 1919 dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1921. Taman ini merupakan tempat peristirahatan raja, selain Taman Tirtagangga. Sekitar 25 meter di sebelah Utara Taman ini terdapat sebuah pura bernama Pura Manikan yang juga dibangun oleh Raja Karangasem. Sekarang pura ini telah dipugar dan bangunannya sudah baik dan megah. Di dekat pura ini terdapat mata air dan kolam dimana dulu di tempat ini digunakan oleh raja dan masyarakat Karangsem melangsungkan upacara "Metirta Yatra" yang tujuannya menghaturkan terima kasih dan mohon berkah kemakmuran kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sampai sekarang tradisi ini masih tetap berlangsung dan penyelenggaraan upacara Tirta Yatra dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Karangasem bersama masyarakat terutama para anggota subak di Kecamatan Karangasem

TIRTA GANGGA

WISATA
TIRTA GANGGA




Taman Tirta Gangga merupakan satu komplek pertamanan yang amat indah. Keberadaannya memberikan satu refleksi mengenai satu pola budaya keraton dan budaya masyarakat yang menetapkan air (mata air) pada posisi dan arti yang amat penting bagi kehidupan.

Dalam komplek Taman Tirta Gangga terdapat tempat suci, mata air, bangunan pelindung mata air, menara air, aneka ragam bentuk kolam besar dan kecil, pancoran, pemeliharaan ikan hias, aneka tanaman dan bunga-bungaan. Secara keseluruhan komplek taman ini menyajikan satu daya tarik dan keindahan tersendiri yang terwujud sebagai suatu keharmonisan hubungan manusia, alam, budaya yang dijiwai oleh keagamaan.

Taman Tirta Gangga sebagai obyek wisata alam merupakan warisan taman dan arsitektur almarhum Raja Karangasem yang terakhir, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem (dahulu bernama I Gusti Bagus Djelantik) kepada kesepuluh putra lelaki beliau yang dijadikan milik bersama (druwe tengah) yang kemudian sejak tahun 1981 pengelolaannya diserahkan kepada Dr. Anak Agung Made Djelantik.

Lokasi
Taman Tirta Gangga terletak di pinggir jalan raya jurusan Amlapura. Obyek wisata Taman Tirta Gangga termasuk wilayah desa Ababi, kecamatan Abang, kabupaten Karangasem. Lokasi obyek ini meliputi satu area taman seluas 1,8 ha terdiri dari tiga dataran yang menjurus dari barat ke timur di tengah-tengah hamparan sawah yang amat sangat luas. Obyek wisata Taman Tirta Gangga berada pada satu jaringan obyek yang berdekatan dengan Puri Karangasem, Taman Ujung Karangasem dan ± 17 km terletak taman wisata bahari Tulamben.

Fasilitas
Di sekitar obyek wisata Taman Tirta Gangga telah tersedia berbagai fasilitas bagi para pengunjung dan wisatawan seperti tempat parkir, penginapan, restoran, dan berbagai warung kecil. Di dalam komplek taman tersedia kolam renang untuk dewasa dan anak-anak.

Kunjungan
Taman Tirta Gangga sangat menarik untuk dikunjungi, baik pada pagi maupun sore hari. Tempat ini telah ramai dan telah dikunjungi sejak bertahun-tahun sebagai obyek wisata oleh anak-anak sekolah. Kemudian juga makin ramai dikunjungi oleh wisatawan baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Oleh karena tempatnya di pinggir jalan raya, maka untuk mencapai tempat itu cukup mudah. Bisa dicapai dengan sepeda motor atau dengan taksi. Wisatawan juga dapat mencapainya dengan sarana angkutan umum.

Deskripsi
Dari kapan adanya mata air di tempat yang sekarang dinamai Taman Tirta Gangga tidak dapat diketahui dengan pasti. Akan tetapi waktu mulai tempat itu dikeramatkan oleh masyarakat sebagai tempat mata air suci diperkirakan sekitar 200-300 tahun yang lalu. Pembangunan Taman Tirta Gangga yang dahulu namanya Rejasa dimulai pada tahun 1948.

Dalam tahun 1963, tatkala meletusnya Gunung Agung, taman ini mengalami kerusakan berat, yang merusak bangunan dan saluran-saluran, karena gempa dan amukan lahar. Kemudian sejak tahun 1981, taman ini dipugar dan dikembangkan berkat inisiatif dan program pengelola Dr Anak Agung Made Djelantik serta kerjasama dengan PAM dan Pemerintah Daerah Tingkat II Karangasem.

Struktur fisik Taman Tirta Gangga menggambarkan adanya struktur dalam (jeroan) dan struktur luar (jaba). Pada struktur dalam dijumpai adanya tiga strata daratan yaitu : (1) dataran yang paling rendah; (2) dataran media; (3) dataran atas.

Dataran yang paling rendah seluas kurang lebih 90 are terletak di selatan dan memuat dua buah kolam . Kolam yang paling besar di bagian selatan merupakan kolam ikan. Di tengah kolam tersebut terdapat gili yang memanjang. Kolam yang letaknya di sebelah utara jalan dibagi dua oleh suatu menara air mancur bertingkat. Bagian sebelah barat dari menara digunakan sebagai kolam renang B, sedangkan bagian yang sebelah timur merupakan kolam ikan.

Dataran madia memuat kolam renang A di sebelah barat dan suatu kolam ikan hias di sebelah timur. Diantaranya terdapat kolam hias yang memuat rentetan air mancur kecil dan mungil ditengah-tengahnya.

Dataran atas terdiri dari bagian yang terpisah, dimana yang paling barat semulanya disediakan oleh almarhum Raja karangasem untuk membangun tempat pemujaan. Dataran atas di tengah dihuni oleh keluarga Puri Karangasem, Anak Agung Gede Rai, yang diberi ijin oleh keluarga besar untuk mendirikan pondok-pondok penginapan dan restoran. Usaha ini sekarang dikelola oleh putra-putranya. Dataran tinggi yang di pojok timur dan lahan kolam bundar di bawahnya merupakan pesanggrahan Dr. Anak Agung Made Djelantik.

Pada masa kini Taman Tirta Gangga, berfungsi secara religius, sosial dan hiburan. Pertama, mata air itu memberikan air suci bagi masyarakat sekiatarnya untuk upacara agama. Kedua tempat itu merupakan tempat untuk upacara dewa yadnya dan metirtayatra. Ketiga, tempat itu merupakan tempat hiburan dan rekreasi bagi masyarakat dan wisatawan.

AIR TERJUN SINGSING

WISATA
AIR TERJUN SINGSING




Identifikasi dan Daya Tarik
Pada waktu musim panas, volume air terjun relatif menurun. Jalan menuju air terjun yang sedikit mendaki merupakan kegiatan yang cukup menarik bagi yang menyenangi kegiatan trekking. Letaknya yang tidak jauh dari kawasan Lovina, bahkan dapat dicapai dengan jalan kaki dari Lovina, menjadikan obyek ini banyak dikunjungi wisatawan yang umumnya mereka yang tinggal di kawasan wisata Lovina. Tidak jauh dari air terjun Singsing ini, terdapat monumen yang dikenal dengan nama monumen Belanda. Monumen ini dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk memperinati gugurnya seorang Perwira tentara Belanda dalam perang Banjar pada tahun 1868. Sekitar tahun 1956 menumen ini dihancurkan oleh karena dianggap menghormati penjajahan Belanda. Akan tetapi pada tahun 1992 monumen ini dibangun kembali oleh Pemda Kabupaten Dati II Buleleng dengan maksud bahwa sejaran tidak bisa dihapus, disamping monumen itu juga melambangkan kepahlawanan rakyat Banjar yang mampu menewaskan perwira tentara Belanda.

Lokasi
Air terjun Singsing terletak di Banjar Labuhan Haji Desa Temukus Kecamatan Banjar 3 km dari Lovina dan 13 km dari Singaraja. Untuk menuju obyek wisata ini dapat dicapai dengan kendaraan bermotor sampai jalan jurusan ke desa Tigawarsa. Suatu tanda penunjuk arah menunjukkan jalan yang harus diikuti dengan berjalan kaki sepanjang lebih kurang 600 meter untuk sampai kepada air terjun yang pertama. Untuk mencapai air terjun kedua yang letaknya lebih tinggi harus melalui jalan yang terjal.

Fasilitas
Terdapat fasilitas parkir yang dibangun dan diusahakan oleh Banjar setempat. Terdapat juga warung di tempat parkir yang menjual minuman. Meskipun jalan setapak menuju air terjun tidak dikeraskan namun jalannya cukup baik sehingga menambah suasana alamiahnya.

Kunjungan
Wisatawan baik Nusantara maupun mancanegara banyak mengunjungi air terjun ini karena suasananya yang tenang, alami dan untuk kesegaran jasmani.

Deskripsi
Tidak ada petunjuk yang dapat dipergunakan bagaimana nama Singsing ini diperoleh. Namun masyarakat, demikian juga para pengunjung dan wisatawan menyebutnya air terjun singsing. Lokasi air terjun di daerah perbukitan memberikan pemandangan ke arah Utara hamparan pantai Lovina memberikan daya tarik yang cukup memikat.

YEH PANES BANYUWEDANG

WISATA
YEH PANES BANYUWEDANG





Identifikasi dan Daya Tarik
Air panas Banyuwedang bersumber dari mata air panas yang muncul di pantai dan berada di bawah air pada waktu air pasang. sumber air panas yang terbesar, telah dibuatkan bangunan beton pengaman dalam bentuk lingkaran yang berfungsi sebagai tanggul sehingga pada saat air pasang air panas tersebut tidak bercampur dengan air laut. Air panas ini banyak mengandung belerang dengan suhu panas rata-rata 40 derajad celcius. Karena kandungan belerangnya yang cukup tinggi, maka air panas ini dipercayai secarameluas bahkan sampai ke pulau Jawa kalau air panas ini dapat menyembuhkan beberapa penyakit terutama penyakit kulit. Tidak mengherankan apabila banyak orang-orang yang datang ke tempat ini dengan harapan penyakitnya dapat disembuhkan. Pantai dimana terdapat sumber air panas ini ditumbuhi tanaman bakau yang mencegah pantai abrasi. Dapat dikatakan pantai di Banyuwedang ini bebas dari abrasi. Adanya teluk dan beberapa pasir putih di sekitarnya menambah asset pariwisata di sekitar Banyumedang ini.

Lokasi
Air panas Banyuwedang terletak di desa Pejarakan Kecamatan Gerokgak 60 km dari kota singaraja. Air panas Banyumedang terletak di pinggir batas kawasan Taman Nasional Bali Barat. Di sebelah selatan jalan masuk dari jalan raya ke Air Panas banyumedang masuk kawasan Taman nasional, sedangkan di sebelah utaranya adalah kawasan Batu Ampar yang terdiri dari tanah berkapur yang oleh Pemerintah Daerah tingkat II Buleleng telah direncanakan sebagai kawasan wisata baru, mengingat adanya potensi daya tarik yang besar, diantaranya adalah adanya Taman Laut di sekitar pulau Menjangan.

Fasilitas
Jalan menuju air panas Banyuwedang dari jalan raya jurusan Singaraja-Gilimanuk telah dikeraskan, demikian pula telah dibangun fasilitas parkir, di sumber air pnas yang telah tanggul dibangun pula sebuah bangunan dengan beberapa kamar mandi tertutup. Di areal Air Panas Banyuwedang terdapat juga beberapa warung-warung kecil yang umumnya menjual minuman. Sebuah fasilitas WC telah dibangun oleh Taman Nasional Bali Barat dan beberapa tempat berteduh.

Kunjungan
Jumlah kunjungan wisatawan Nusantara tinggi jika dibandingkan dengan wisatawan mancanegara.Pengunjung yang datang kebanyakan dengan tujuan untuk berobat. Juga yang datang dari Pulau Jawa yaitu dari Daerah Banyuwangi.

Deskripsi
Sesungguhnya sumber air panas Banyuwedang terletak di tengah-tengah hutan bakau di pinggir pantai. Daerah sekitarnya relatif gersang karena tanaghnya terdiri dari tanah kapur dan tidak terdapatnya sungai yang dapat menjadikan sumber air dan penghijauan sekitarnya. Oleh karenanya tanaman yang banyak tumbuh adalah tanaman yang tidak banyak membutuhkan air seperti yang ada di Bali dikenal dengan pohon bekul atau bangyang. Adanya air panas yang mengandung belerang yang terletak di pinggir pantai ditunjang dengan daerah yang jarang penduduknya sehingga dapat diciptakan suasana tenang, taman laut, maka oleh Pemerintah Daerah Propinsi Tingkat I Bali, daerah ini akan dikembangkan sebagai kawasan pariwisata untuk kesehatan atau yang umum disebut Health Tourism.

DESA KAMASAN

WISATA
DESA KAMASAN




Identifikasi dan Daya Tarik

Kamasan adalah sebuah komunitas seniman lukisan tradisional. Begitu intim dan begitu lama berkembangnya seni lukis tradisional maka para seniman menyebut hasil-hasil lukisan di sana memiliki gaya (style) tersendiri yaitu lukisan tradisional Kamasan. Sesungguhnya bakat seni tumbuh pula pada karya-karya seni lainnya yaitu berupa seni ukir emas dan perak dan yang terakhir ialah seni ukir peluru. Meskipun dari segi material yang digunakan kain warna logam mengikuti perubahan yang terjadi tetapi ciri khasnya tetap tampak dalam tema lukisan atau ukiran yaitu menggambarkan tokoh-tokoh wayang.

Tokoh-tokoh wayang yang menjadi tema lukisan atau ukiran mengacu pada cerita epos Mahabharata atau Ramayana, begitu juga cerita kekawin Arjuna Wiwaha, Suthasoma. Oleh karena itu, lukisan atau ukiran gaya Kamasan atau Wayang Kamasan dapat dikatakan agak tua umurnya dari konteks sejarahnya yang hingga sekarang masih nampak utuh. Menurut kesan para kolektor Internasional, lukisan gaya Kamasan dianggap masih sangat halus dan canggih, bersih, tidak ribut dengan detil yang tidak penting dan sangat jelas pesan ceritanya. Lukisan atau ukiran tradisional yang berintikan wayang itulah yang membawa daya tarik tersendiri bagi seniman atau wisatawan yang berkunjung ke desa Kamasan.

Lokasi

Kamasan sebagai pusat berkembangnya lukisan dan ukiran tradisional adalah nama sebuah desa di Kecamatan dan Kabupaten Klungkung. Desa Kamasan secara geografis termasuk desa dataran rendah pantai Klotok atau pantai Jumpai ± 3 km. Jarak dari Denpasar ke desa ini ialah 43 km, dapat dicapai dengan kendaraan bermotor, seluruh jalan menuju obyek yaitu pusat-pusat lukisan atau kerajinan ukiran sudah diaspal.

Bisa ditempuh melalui tiga jalur yaitu : (1) Jalur Barat dari tengah-tengah kota kabupaten ke arah selatan sepanjang 1,5 km berbelok ke kiri langsung sampai banjar Sangging, tempat kediaman pelukis tradisional wayang yang ternama yaitu Nyoman Mandra. Ke selatan sedikit lagi sampai ke banjar Pande Mas, pusat ukiran emas, perak; (2) Jalur utara dari kota kabupaten Klungkung agak di bagian timur ke arah selatan melalui belokan-belokan jalan sampai di banjar Siku, juga tempat kediaman pelukis tradisional yang bernama Mangku Mura; (3) Jalur selatan dari tengah-tengah kota Kabupaten Klungkung ke arah selatan sepanjang 3 km melalui desa-desa Tojan dan Gelgel sampai ke banjar Pande, pusat kerajinan ukiran tradisional bahan peluru.

Sepanjang jalan yang dilalui di banjar-banjar atau desa-desa, Tojan dan Gelgel tetangganya masih terdengar dentangan palu para pengrajin ukir perak dan peluru atau juga suara tenunan Cagcag yang menghasilkan kain songket. Dapat disebut obyek-obyek disekitarnya ialah Kertha Gosa di kota Klungkung, Pura Batu Klotok dan Pura Dasar di Gelgel yang memiliki riwayat sisa-sisa kebesaran kerajaan Gelgel abad ke-15 dan ke-16 di Bali.

Fasilitas

Ada sebuah ruang pameran atau penjualan produk lukisan atau ukiran, tempatnya di sebelah barat banjar Sangging, sekitar 50 meter. Sebuah sanggar latihan melukis didirikan oleh Nyoman Mandra di rumahnya sendiri. Apabila tamu-tamu berkunjung ke Kamasan maka lebih banyak dapat menikmati langsung bengkel-bengkel kerja para seniman lukis atau ukir dirumahnya masing-masing. Jalan yang dilalui seluruhnya beraspal bisa ditempuh kendaraan bermotor (mobil, sepeda motor) atau tersedia pula angkutan tradisional dokar.

Kunjungan

Kamasan sebagai pusat produk lukisan atau ukiran tradisional banyak mendapat kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara. Waktu kunjungan mereka ialah pada siang hari. Para wisatawan yang berkunjung ke Kamasan menggunakan peralatan sepeda motor, mobil, taxi atau dokar.

Deskripsi

Kamasan atau "Ka-emas-an" adalah nama yang cukup tua untuk komunitas orang-orang yang mempunyai pekerjaan dalam bidang memadai yaitu Pande Mas sesuai dengan nama salah satu banjar di desa Kamasan. Bukit arkeologis yang ditemukan berupa tahta-tahta batu, arca menhir, lesung batu, palungan batu, monolit yang berbentuk silinder, batu dakon, lorong-lorong jalan yang dilapisi batu kali yang pernah ditemukan pada tahun 1976 dan 1977, yang tersebar di desa-desa Kamasan, Gelgel dan Tojan, memberi petunjuk bahwa komunitas cukup tua umurnya.

Dari temuan arkeologis itu juga memberi petunjuk bahwa tradisi megalitik pernah mewarnai kehidupan komunitas di Kamasan dan sekitarnya, yaitu kehidupan komunitas pra Hindu yang berakar pada masa neolitikum (+ 2000 tahun SM). Tradisi Megalitik telah diserap oleh para undagi dan ke-pande-an pada periode kemudian. Para Pande semakin dikenal dan difungsikan oleh Raja (Ida Dalem) sejak kerajaan berpusat di Gelgel (1380-1651).

Produk seni ukir pada logam emas atau perak yang berbentuk pinggan (bokor, dulang dll) telah dijadikan perlengkapan barang-barang perhiasan Keraton Suweca Linggaarsa Pura Gelgel. Selain seni ukir, berkembang pula seni lukis wayang untuk hiasan di atas kain berupa bendera (kober , umbul-umbul, lelontek), kain hiasan (ider-ider dan parba) yang menjadi pelengkap dekorasi di tempat-tempat suci (pura) atau bangunan di komplek Kraton.

Sejak pemegang tahta II berkuasa yaitu Dalem Waturenggong (1460-1550) kerajaan Gelgel mencapai puncak kemasyuran, maka keemasan Kamasan merupakan desa pengrajin. Banjar-banjar yang ada terutama Sangging dan Pande Mas dapat dikatakan banjar Gilda, kelompok kerja, pengrajin yang terdiri dari rumah-rumah serta bengkel-bengkel dimana para warganya tinggal, bekerja dan mengabdi kepada sang Raja hingga pada akhir hayat mereka.

Raja dipandang sebagai dewa raja yang bertugas menjaga agar jagad (alam semesta dan isinya) senantiasa ada dalam keadaan seimbang dan selaras. Oleh karena seni dipandang sebagai unsur penting dalam menjaga keselarasan itu lewat karya seni sakral maka menjadi tugas penguasa untuk melindungi serta memelihara kesenian.

Pada waktu pusat kekuasaan dipindahkan dari Gelgel ke Klungkung, oleh Dewa Agung Jambe tahun 1686, keturunan langsung dari Dinasti Kresna Kepakisan di Gelgel, kedudukan desa Kamasan yang berintikan Sangging dan Pande Mas sebagai banjar Gilda pengrajin tempat para seniman lukisan dan ukiran tetap dipertahankan.

Akan tetapi sekarang sesudah Klungkung berubah menjadi ibukota kabupaten Propinsi Bali dan para keturunan Raja serta bangsawannya menjadi pejabat dan pegawai RI, banjar Sangging dan Banjar Pande Mas bukan lagi banjar Gilda dari sang Raja. Meskipun demikian, para seniman dan pengrajin Sangging, pande mas dan Banjar-banjar lainnya : Siku, Geria, Kacangdawa, Peken Pande dan Tabanan masih terus menghasilkan lukisan atau ukiran gaya Kamasan atau gaya wayang.

Perluasan produk pengrajin telah beragam, tidak hanya terbatas pada ukiran emas dan perak tetapi muncul pula seni ukir yang berbahan tembaga atau kuningan dan peluru. Produk kesenian mereka berupa lukisan atau ukirannya banyak dipesan oleh wisatawan mancanegara atau nusantara. Begitu juga, sejalan dengan meningkatnya turisme, toko-toko souvenir dan seni di Klungkung, atau pasar seni Gianyar dan Denpasar serta hotel-hotel juga menjadi pelanggan yang tetap dari produk kesenian gaya wayang di Kamasan

KERTA GOSA

WISATA
KERTA GOSA




Sebagai bekas kerajaan, wajar jika Klungkung mempunyai banyak peninggalan yang saat ini menjadi objek wisata. Salah satunya adalah Taman Gili Kerta Gosa, peninggalan budaya kraton Semarapura Klungkung. Kerta Gosa adalah suatu bangunan (bale) yang merupakan bagian dari bangunan komplek kraton Semarapura dan telah dibangun sekitar tahun 1686 oleh peletak dasar kekuasaan dan pemegang tahta pertama kerajaan Klungkung yaitu Ida I Dewa Agung Jambe.

Kerta Gosa terdiri dari dua buah bangunan (bale) yaitu Bale akerta Gosa dan Bale Kambang. Disebut Bale Kambang karena bangunan ini dikelilingi kolam yaitu Taman Gili. Keunikan Kerta Gosa dengan Bale Kambang ini adalah pada permukan plafon atau langit-langit bale ini dihiasi dengan lukisan tradisional gaya Kamasan (sebuah desa di Klungkung) atau gaya wayang yang sangat populer di kalangan masyarakat Bali. Pada awalnya, lukisan yang menghiasi langit-langit bangunan itu terbuat dari kain dan parba. Baru sejak tahun 1930 diganti dan dibuat di atas eternit lalu direstorasi sesuai dengan gambar aslinya dan masih utuh hingga sekarang. Sebagai peninggalan budaya Kraton Semarapura, Kerta Gosa dan Bale Kambang difungsikan untuk tempat mengadili perkara dan tempat upacara keagamaan terutama yadnya yaitu potong gigi (mepandes) bagai putra-putri raja.

Fungsi dari kedua bangunan terkait erat dengan fungsi pendidikan lewat lukisan-lukisan wayang yang dipaparkan pada langit-langit bangunan. Sebab, lukisan-lukisan tersebut merupakan rangkaian dari suatu cerita yang mengambil tema pokok parwa yaitu Swargarokanaparwa dan Bima Swarga yang memberi petunjuk hukuman karma phala (akibat dari baik-buruknya perbuatan yang dilakukan manusia selama hidupnya) serta penitisan kembali ke dunia karena perbuatan dan dosa-dosanya. Karenanya tak salah jika dikatakan bahwa secara psikologis, tema-tema lukisan yang menghiasi langit-langit bangunan Kerta Gosa memuat nilai-nilai pendidikan mental dan spiritual. Lukisan dibagi menjadi enam deretan yang bertingkat.

Deretan paling bawah menggambarkan tema yang berasal dari ceritera Tantri. Dereta kedua dari bawah menggambarkan tema dari cerita Bimaswarga dalam Swargarakanaparwa. Deretan selanjutnya bertemakan cerita Bagawan Kasyapa. Deretan keempat mengambil tema Palalindon yaitu ciri atau arti dan makna terjadinya gempa bumi secara mitologis. Lanjutan cerita yang diambil dari tema Bimaswarga terlukiskan pada deretan kelima yang letaknya sudah hampir pada kerucut langit-langit bangunan. Di deretan terakhir atau keenam ditempati oleh gambaran tentang kehidupan nirwana. Selain di langit-langit bangunan Kerta Gosa, lukisan wayang juga menghiasi langit-langit bangunan di sebelah barat Kerta Gosa yaitu Bale Kambang. Pada langit-langit Bale Kambang ini lukisan wayang mengambil tema yang berasal dari cerita Kakawin Ramayana dan Sutasoma.

Pengambilan tema yanga berasal dari kakawin ini memberi petunjuk bahwa fungsi bangunan Bale Kambang merupakan tempat diselenggarakannya upacara keagamaan Manusa Yadnya yaitu potong gigi putra-putri raja di Klungkung. Daya tarik dari Kerta Gosa selain lukisan tradisional gaya Kamasan di Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang, peninggalan penting lainnya yang masih berada di sekitarnya dan tak dapat dipisahkan dari segi nilai sejarahnya adalah pemedal agung (pintu gerbang/gapura). Pemedal Agung terletak di sebelah barat Kerta Gosa yang sangat memancarkan nilai peninggalan budaya kraton. Pada Pemedal Agung ini terkandung pula nilai seni arsitektur tradisional Bali. Gapura inilah yang pernah berfungsi sebagi penopang mekanisme kekuasaan pemegang tahta (Dewa Agung) di Klungkung selama lebih dari 200 tahun (1686-1908).

Pada peristiwa perang melawan ekspedisi militer Belanda yang dikenal sebagai peristiwa Puputan Klungkung pada tanggal 28 April 1908, pemegang tahta terakhir Dewa Agung Jambe dan pengikutnya gugur. (Rekaman peristiwa ini kini diabadikan dalam monumen Puputan Klungkung yang terletak di seberang Kerta Gosa). Setelah kekalahan tersebut bangunan inti Kraton Semarapura (jeroan) dihancurkan dan dijadikan tempat pemukiman penduduk. Puing tertinggi yang masih tersisa adalah Kerta Gosa, Bale Kambang dengan Taman Gili-nya dan Gapura Kraton yang ternyata menjadi objek yang sangat menarik baik dari sisi pariwisata maupun kebudayaan terutama kajian historisnya.

Kerta Gosa ternyata juga pernah difungsikan sebagai balai sidang pengadilan yaitu selama berlangsungnya birokrasi kolonial Belanda di Klungkung (1908-1942) dan sejak diangkatnya pejabat pribumi menjadi kepala daerah kerajaan di Klungkung (Ida I Dewa Agung Negara Klungkung) pada tahun 1929. Bahkan, bekas perlengkapan pengadilan berupa kursi dan meja kayu yang memakai ukiran dan cat prade masih ada. Benda-benda itu merupakan bukti-bukti peninggalan lembaga pengadilan adat tradisional seperti yang pernah berlaku di Klungkung dalam periode kolonial (1908-1942) dan periode pendudukan Jepang (1043-1945). Pada tahun 1930, pernah dilakukan restorasi terhadap lukisan wayang yang terdapat di Kerta Gosa dan Bale Kambang oleh para seniman lukis dari Kamasan. Restorasi lukisan terakhir dilakukan pada tahun 1960.

TANAH LOT

TANAH LOT



Tanah Lot (Wisata Alam dan Budaya), merupakan suatu batu karang yang menyerupai gili kecil yang dikelilingi oleh laut. Di atas batu karang itu terdapat sebuah pura bernama Pura Tanah Lot. Panorama laut dan tebing-tebing batu karang sekitar tempat ini sangat indah, terlebih lagi jika pada sore hari menjelang matahari terbenam pantainya kelihatan berwarna merah akibat pantulan sinar matahari. Di bawah Pura ini terdapat beberapa goa yang di dalamnya hidup beberapa ekor ular berwarna hitam putih. Ular-ular ini sangat jinak dan setiap saat ditunggu oleh pawangnya. Tanah Lot juga menyediakan fasilitas seperti restorant, rumah penginapan dan gallery yang menjual barang-barang seni lukis. Tanah Lot terletak di wilayah desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan. Untuk mencapai lokasi ini dari kota Denpasar menempuh jarak lebih kurang sejauh 30 Km.

SANGEH

Mau tahu pusatnya monyet?. Terdapat hutan alami yang luas sekali dengan hampir ratusan ribu ekor monyet di dalamnya. Umumnya monyet-monyet yang ada di hutan ini nakal-nakal. dan mereka sangat jahil . Hati-hati dengan barang bawaan seperti perhiasan, kacamata sampe tas jinjing. Sekalidi embat, bakal dibawa kabur masuk hutan. Kalo terjadi begini goodbye aja ama barang kita.

Untuk lebih aman-nya, banyak guide lokal yang bisa dimintai tolong nganterin. Paling ngga mereka udah berpengalaman menghadapi serbuan monyet-monyet. Mereka akan mengantarkan kamu sampe ke tengah hutan di mana terdapat sebuah pura yang menurut mitos dijaga oleh para monyet di sini.

Taukah Kamu?

Taukah Kamu?

di bali, memegang kepala orang laen, apalagi orang yang lebih tua atau berkasta, adalah perbuatan tidak sopan.